16 TENSES

Posted in Uncategorized on Maret 24, 2010 by citra

16 TENSES

1. Simple Present Tense ( S + Infinitive / Infinitive(s/es) )

Stating that the confessed acts of habit.

‘She usually eats noodle for breakfast’

- Stating the general truth that can not be denied.

‘The sun rises in the east’

Note : Infinitive does not change if preceded by a helping verb (can, could, may, might, must, shall, should, will, would, do, does, did).

‘He can speak english’

2. Present Continous Tense ( S + to be (am, is, are) + Present Participle(ing+form) )

Stating that the ongoing actions.

‘I am studying english’

Stating a temporary action

‘She is reading now, but will write soon’

Stating that the act referred to in the future.

‘They are writing again in a few week’

3. Present Perfect Tense ( S + have/has + Past Participle )

Stating yan activities conducted the past and still have something to do with the present, but it did not last.

‘I have taught english for one week’ à time the incident is not clear

Stating the events that happened.

‘She has eaten’

Indicates an action replay at the time was not necessarily before now. The words are often used : before, already, ever, never, yet.

‘I’ve heard before’

‘She has never been there before’

Indicates actions completed in a short time. The words are often usedat last, finally, just, recently.

‘The time at last arrived’

4. Present Perfect Continous Tense ( S + have/has +been + Present Participle )

- Stating that the act which started at the time of the past and still persists today.

‘We have been waiting for you since eight o’clock’

5. Past Tense ( S + Past Tense )

-   Stating that the act that was completed at the past (the time obviously)

‘She came here last month

6. Past Continous Tense ( She + was/were + Present Participle)

Stating that the act had already started and is still going on when the other acts followed in the past..

‘When I came to his home, he was playing computer’

Stating that the act was happening in the past

‘He was watching TV all afternoon yesterday’

7. Past Perfect Tense ( S + had + Past Participle )

-   Stating what she had done before the other actions performed on the past.

‘When my mother went, I had cleaned that room’.

‘He told me has name after I had asked him twice’

Note : Past Perfect should be used if time is an act of the past sooner than other actions.

The first deed is done, we use Past Perfect, and the second act we use Past Tense.

8. Past Perfect Continous ( S + had + been + Present Participle )

- Demonstrate ongoing actions in the past.

‘When I finished my dinner, he had been playing guitar’

‘When I came to Surabaya in 1980, he had already been living there about five years’

9. Future Tense ( S + will/shall + Infinitive )

Declare acts to be done in the future.

‘She will review that lesson’

‘I shall go wih you’

10. Future Continous Tense ( S + will/shall + be + Present Participle )

- Indicates actions that will occur when it is clear

‘At this time tomorrow, I shall be getting exam’

‘He will be studying at eight o’clock tomorrow’

11. Future Perfect Tense ( S + will/shall + have + Past Participle )

- Stating that the act had begun in the past and soon will be completed in time to come.

‘By next week, I shall have read this book’

‘Shinta will have done this work by the end of this week’

12. Future Perfect Continous Tense ( S + will/shall + have + been + Present Participle )

- Such as Future Perfect, but the act is likely to continue in the future.

‘By the end of this year, we shall have been studying Korean language for three years’

13. Past Future Tense ( S + would/should + Infinitive )

Stating that the act will be done in the past

‘They would go to Balik Papan the following day’

‘He would buy a car the previous day’

14. Past Future Continous Tense ( S + would/should + be + Present Pariciple )

- Stating that will act being done in the past.

‘I should be taking an examination at this time the following day’

15. Past Future Perfect Tense ( S + would/should + have + Past Participle )

Stating assumptions that might not happen because the conditions are certainly not be met, but only as an assumption that the requirements are fulfilled in the past.

‘He would have graduated, if he had studied hard’

In fact : He didn’t graduated.

16. Past Future Perfect ( S + would/should + have + been + Present Participle )

Like Future Perfect Tense, but in the past.

‘By last Lebaran, I should have been working at that office for five years’

‘By the end of the month last semester, Zahra would have been studying computeritation at Gunadarma University for three years’

Write : Citra widya ningtyas , 1ea11 , 16209339

artikel noun clause

Posted in Uncategorized on Maret 14, 2010 by citra

Change from full subject-predicate form
In a noun clause, the full subject and predicate are retained, but the structure is changed by addition of a special word order, or by both. These changed permit the noun clause to fill the same positions and to serve the same functions as nouns.

Types and functions of noun clauses
Noun clauses may be classified according to the kind : Statement , Question , Request , Exclamation

Pengertian noun clause

Posted in Uncategorized on Maret 14, 2010 by citra

Noun clause adalah klausa yang berfungsi sebagai nomina. Karena fungsinya sebagai nomina, maka noun clause dapat menduduki posisi-posisi berikut:

  1. Subjek kalimat (subject of a sentence)
  2. Objek verba transitif (object of a transitive verb)
  3. Objek preposisi (object of a preposition)
  4. Pelengkap (complement)
  5. Pemberi keterangan tambahan (noun in apposition)

Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh-contoh di bawah ini!

Noun clause sebagai subjek kalimat

Contoh:

What you said doesn’t convince me at all.

How he becomes so rich makes people curious.

What the salesman has said is untrue.

That the world is round is a fact.

Noun clause sebagai objek verba transitif

Contoh:

I know what you mean.

I don’t understand what he is talking about.

He said that his son would study in Australia.

Verba yang dapat diikuti noun clause dalam hal ini that-clause antara lain adalah:

admit : mengakui

realize : menyadari

announce : mengumumkan

recommend : menganjurkan

believe : percaya

remember : ingat

deny : menyangkal

reveal : menyatakan, mengungkapkan

expect : mengharapkan

say : mengatakan

find : menemukan

see : melihat

forget : lupa

stipulate : menetapkan

hear : mendengar

suggest : menganjurkan

inform : memberitahukan

suppose : mengira

know : tahu, mengetahui

think : pikir, berpendapat

promise : berjanji

understand : mengerti

propose : mengusulkan

wish : ingin, berharap

Noun clause sebagai objek preposisi

Contoh:

Please listen to what your teacher is saying.

Budi pays full attention to how the native speaker is pronouncing the English

word.

Be careful of what you’re doing.

Noun clause sebagai pelegkap

Contoh:

The good news is that the culprit has been put into the jail.

This is what I want.

That is what you need.

Noun clause sebagai noun in apposition

Contoh:

The idea that people can live without oxygen is unreasonable.

The fact that Rudi always comes late doesn’t surprise me.

indonesiaku

Posted in Uncategorized on Desember 28, 2009 by citra

indonesia adalah suatu negara kepulauan yang di anugerahi kekayan alam dan kebudayaan yang sangat berlimpah dimana terdapat kota – kota wisata yang sangat indah dan dimana terdapatnya berbagai macam kebudayaan yang berbeda-beda akan tetapi tetap satu untuk mencapai tujuan yang bersama . misalnya :

Di dalam bermasyarakat, apalagi di dalam masyarakat yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan serta musyawarah untuk mufakat dapat dirasakan langsung kalau kebaikan bagi semualah yang lebih diutamakan, walaupun beresiko mesti mengesampingkan beberapa prinsip kebenaran yang diakui. Lebih jauh lagi, bukan merupakan sesuatu yang aneh kalau kebenaran malah dikesampingkan hanya atas alasan tercapainya kemufakatan atau kesepakatan. Sebab tanpa kesepakatan, persatuan dan kesatuan ada di ambang bencana. Artinya, walaupun tidaklah benar untuk menyepakati sesuatu yang menyimpang dari prinsip-prinsip dan nilai-nilai kebenaran, akan tetapi sejauh itu mendatangkan kebaikan bagi semua, itu akan tetap dianggap pantas untuk dipilih.

Makanya, berpegang pada prinsip bahwasanya segala sesuatunya harus baik dan benar, akan lebih banyak mendatangkan kekecewaan buat kita itu berpotensi membenturkan kita dengan tak sedikit orang  alih-alih mendatangkan predikat reformis, kita malah dikalungi predikat ekstrimis. Fakta-fakta yang ada, dan kejadian-kejadian yang kita alami langsung, membuktikan terjadinya fenomena itu. Oleh karenanya,sejauh kita berurusan dengan yang relatif dan masih hidup di alam relatif dan fenomenal ini, adalah baik untuk menjujung tinggi prinsip-prinsip kebaikan, yang juga berarti mengesampingkan prinsip-prinsip Kebenaran Absolut dan menerima dengan penuh kearifan prinsip-prinsip kebenaran relatif.

Pada dasarnya, apa yang kita anggap dan sebut sebagai kebaikan itu sendiri juga merupakan bagian dari kebenaran relatif. Secara praktis, sebetulnya tidak ada kontradiksi disini. Kontradiksi hanya terjadi di tataran teoritis, di tataran intelek. Sesuatu bisa saja baik dan benar dalam suatu kurun waktu tertentu dan di wilayah geo-politis tertentu, akan tetapi menjadi tidak baik dan tidak benar pada kurun atau di wilayah geo-politis lainnya. Dan ini terbukti benar adanya. Bisa memandang demikian, bukan saja bisa melepaskan kita dari kefanatikan, akan tetapi akan jauh lebih menentramkan hati.

bencana alam di indonesia

Posted in Uncategorized on Desember 10, 2009 by citra

Di indonesia sering kali terjadi bencana alam salah satu contohnya adalah lumpur lapindo yang selama bertahun-tahun tiada menemui jalan keluarnya,padahal sudah berbagai upaya dilakukan untuk menangani masalah bencana ini .

Banjir Lumpur Panas Sidoarjo atau Lumpur Lapindo atau Lumpur Sidoarjo (Lusi) , adalah peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak tanggal 27 Mei 2006, bersamaan dengan gempa berkekuatan 5,9 SR yang melanda Yogyakarta. Semburan lumpur panas selama beberapa bulan ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, serta mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur.

Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan.

Lokasi semburan hanya berjarak 150-500 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas sebagai operator blok Brantas. Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur kebetulan terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui. Namun bahan tulisan lebih banyak yang condong kejadian itu adalah akibat pemboran.

Lokasi tersebut merupakan kawasan pemukiman dan di sekitarnya merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi,Indonesia

Ada yang mengatakan bahwa lumpur Lapindo meluap karena kegiatan PT Lapindo di dekat lokasi itu, karena banyak kalangan yang tidak mengetahui bahwa luapan lumpur bukan keluar dari lubang pemboran yang dilakukan PT LAPINDO.

Lapindo Brantas melakukan pengeboran sumur Banjar Panji-1 pada awal Maret 2006 dengan menggunakan perusahaan kontraktor pengeboran PT Medici Citra Nusantara. Kontrak itu diperoleh Medici atas nama Alton International Indonesia, Januari 2006, setelah menang tender pengeboran dari Lapindo senilai US$ 24 juta.

Pada awalnya sumur tersebut direncanakan hingga kedalaman 8500 kaki (2590 meter) untuk mencapai formasi Kujung (batu gamping). Sumur tersebut akan dipasang selubung bor (casing ) yang ukurannya bervariasi sesuai dengan kedalaman untuk mengantisipasi potensi circulation loss (hilangnya lumpur dalam formasi) dan kick (masuknya fluida formasi tersebut ke dalam sumur) sebelum pengeboran menembus formasi Kujung.

Sesuai dengan desain awalnya, Lapindo “sudah” memasang casing 30 inchi pada kedalaman 150 kaki, casing 20 inchi pada 1195 kaki, casing (liner) 16 inchi pada 2385 kaki dan casing 13-3/8 inchi pada 3580 kaki (Lapindo Press Rilis ke wartawan, 15 Juni 2006). Ketika Lapindo mengebor lapisan bumi dari kedalaman 3580 kaki sampai ke 9297 kaki, mereka “belum” memasang casing 9-5/8 inchi yang rencananya akan dipasang tepat di kedalaman batas antara formasi Kalibeng Bawah dengan Formasi Kujung (8500 kaki).

Diperkirakan bahwa Lapindo, sejak awal merencanakan kegiatan pemboran ini dengan membuat prognosis pengeboran yang salah. Mereka membuat prognosis dengan mengasumsikan zona pemboran mereka di zona Rembang dengan target pemborannya adalah formasi Kujung. Padahal mereka membor di zona Kendeng yang tidak ada formasi Kujung-nya. Alhasil, mereka merencanakan memasang casing setelah menyentuh target yaitu batu gamping formasi Kujung yang sebenarnya tidak ada. Selama mengebor mereka tidak meng-casing lubang karena kegiatan pemboran masih berlangsung. Selama pemboran, lumpur overpressure (bertekanan tinggi) dari formasi Pucangan sudah berusaha menerobos (blow out) tetapi dapat diatasi dengan pompa lumpurnya Lapindo (Medici).

Setelah kedalaman 9297 kaki, akhirnya mata bor menyentuh batu gamping. Lapindo mengira target formasi Kujung sudah tercapai, padahal mereka hanya menyentuh formasi Klitik. Batu gamping formasi Klitik sangat porous (bolong-bolong). Akibatnya lumpur yang digunakan untuk melawan lumpur formasi Pucangan hilang (masuk ke lubang di batu gamping formasi Klitik) atau circulation loss sehingga Lapindo kehilangan/kehabisan lumpur di permukaan.

Akibat dari habisnya lumpur Lapindo, maka lumpur formasi Pucangan berusaha menerobos ke luar (terjadi kick). Mata bor berusaha ditarik tetapi terjepit sehingga dipotong. Sesuai prosedur standard, operasi pemboran dihentikan, perangkap Blow Out Preventer (BOP) di rig segera ditutup & segera dipompakan lumpur pemboran berdensitas berat ke dalam sumur dengan tujuan mematikan kick. Kemungkinan yang terjadi, fluida formasi bertekanan tinggi sudah terlanjur naik ke atas sampai ke batas antara open-hole dengan selubung di permukaan (surface casing) 13 3/8 inchi. Di kedalaman tersebut, diperkirakan kondisi geologis tanah tidak stabil & kemungkinan banyak terdapat rekahan alami (natural fissures) yang bisa sampai ke permukaan. Karena tidak dapat melanjutkan perjalanannya terus ke atas melalui lubang sumur disebabkan BOP sudah ditutup, maka fluida formasi bertekanan tadi akan berusaha mencari jalan lain yang lebih mudah yaitu melewati rekahan alami tadi & berhasil. Inilah mengapa surface blowout terjadi di berbagai tempat di sekitar area sumur, bukan di sumur itu sendiri.

Perlu diketahui bahwa untuk operasi sebuah kegiatan pemboran MIGAS di Indonesia setiap tindakan harus seijin BP MIGAS, semua dokumen terutama tentang pemasangan casing sudah disetujui oleh BP MIGAS.

VOLUME LUMPUR LAPINDO :

Berdasarkan beberapa pendapat ahli lumpur keluar disebabkan karena adanya patahan, banyak tempat di sekitar Jawa Timur sampai ke Madura seperti Gunung Anyar di Madura, “gunung” lumpur juga ada di Jawa Tengah (Bleduk Kuwu). Fenomena ini sudah terjadi puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu. Jumlah lumpur di Sidoarjo yang keluar dari perut bumi sekitar 100.000 meter kubik perhari, yang tidak mungkin keluar dari lubang hasil “pemboran” selebar 30 cm. Dan akibat pendapat awal dari WALHI maupun Meneg Lingkungan Hidup yang mengatakan lumpur di Sidoarjo ini berbahaya, menyebabkan dibuat tanggul diatas tanah milik masyarakat, yang karena volumenya besar sehingga tidak mungkin menampung seluruh luapan lumpur dan akhirnya menjadikan lahan yang terkena dampak menjadi semakin luas.

DAMPAK LUMPUR LAPINDO :

Semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Sampai Mei 2009, PT Lapindo, melalui PT Minarak Lapindo Jaya telah mengeluarkan uang baik untuk mengganti tanah masyarakat maupun membuat tanggul sebesar Rp. 6 Triliun.

  • Lumpur menggenangi duabelas desa di tiga kecamatan. Semula hanya menggenangi empat desa dengan ketinggian sekitar 6 meter, yang membuat dievakuasinya warga setempat untuk diungsikan serta rusaknya areal pertanian. Luapan lumpur ini juga menggenangi sarana pendidikan dan Markas Koramil Porong. Hingga bulan Agustus 2006, luapan lumpur ini telah menggenangi sejumlah desa/kelurahan di Kecamatan Porong, Jabon, dan Tanggulangin, dengan total warga yang dievakuasi sebanyak lebih dari 8.200 jiwa dan tak 25.000 jiwa mengungsi. Karena tak kurang 10.426 unit rumah terendam lumpur dan 77 unit rumah ibadah terendam lumpur.
  • Lahan dan ternak yang tercatat terkena dampak lumpur hingga Agustus 2006 antara lain: lahan tebu seluas 25,61 ha di Renokenongo, Jatirejo dan Kedungcangkring; lahan padi seluas 172,39 ha di Siring, Renokenongo, Jatirejo, Kedungbendo, Sentul, Besuki Jabon dan Pejarakan Jabon; serta 1.605 ekor unggas, 30 ekor kambing, 2 sapi dan 7 ekor kijang.
  • Sekitar 30 pabrik yang tergenang terpaksa menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan ribuan tenaga kerja. Tercatat 1.873 orang tenaga kerja yang terkena dampak lumpur ini.
  • Empat kantor pemerintah juga tak berfungsi dan para pegawai juga terancam tak bekerja.
  • Tidak berfungsinya sarana pendidikan (SD, SMP), Markas Koramil Porong, serta rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon)
  • Rumah/tempat tinggal yang rusak akibat diterjang lumpur dan rusak sebanyak 1.683 unit. Rinciannya: Tempat tinggal 1.810 (Siring 142, Jatirejo 480, Renokenongo 428, Kedungbendo 590, Besuki 170), sekolah 18 (7 sekolah negeri), kantor 2 (Kantor Koramil dan Kelurahan Jatirejo), pabrik 15, masjid dan musala 15 unit.
  • Kerusakan lingkungan terhadap wilayah yang tergenangi, termasuk areal persawahan
  • Pihak Lapindo melalui Imam P. Agustino, Gene-ral Manager PT Lapindo Brantas, mengaku telah menyisihkan US$ 70 juta (sekitar Rp 665 miliar) untuk dana darurat penanggulangan lumpur.
  • Akibat amblesnya permukaan tanah di sekitar semburan lumpur, pipa air milik PDAM Surabaya patah [2].
  • Meledaknya pipa gas milik Pertamina akibat penurunan tanah karena tekanan lumpur dan sekitar 2,5 kilometer pipa gas terendam [3].
  • Ditutupnya ruas jalan tol Surabaya-Gempol hingga waktu yang tidak ditentukan, dan mengakibatkan kemacetan di jalur-jalur alternatif, yaitu melalui Sidoarjo-Mojosari-Porong dan jalur Waru-tol-Porong.
  • Tak kurang 600 hektar lahan terendam.
  • Sebuah SUTET milik PT PLN dan seluruh jaringan telepon dan listrik di empat desa serta satu jembatan di Jalan Raya Porong tak dapat difungsikan.

Penutupan ruas jalan tol ini juga menyebabkan terganggunya jalur transportasi Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi serta kota-kota lain di bagian timur pulau Jawa. Ini berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur .

UPAYA PENANGGULANGAN :

Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur, diantaranya dengan membuat tanggul untuk membendung area genangan lumpur. Namun demikian, lumpur terus menyembur setiap harinya, sehingga sewaktu-waktu tanggul dapat jebol, yang mengancam tergenanginya lumpur pada permukiman di dekat tanggul. Jika dalam tiga bulan bencana tidak tertangani, adalah membuat waduk dengan beton pada lahan seluas 342 hektar, dengan mengungsikan 12.000 warga. Kementerian Lingkungan Hidup mengatakan, untuk menampung lumpur sampai Desember 2006, mereka menyiapkan 150 hektare waduk baru. Juga ada cadangan 342 hektare lagi yang sanggup memenuhi kebutuhan hingga Juni 2007. Akhir Oktober, diperkirakan volume lumpur sudah mencapai 7 juta m3.Namun rencana itu batal tanpa sebab yang jelas.

Badan Meteorologi dan Geofisika meramal musim hujan bakal datang dua bulanan lagi. Jika perkira-an itu tepat, waduk terancam kelebihan daya tampung. Lumpur pun meluap ke segala arah, mengotori sekitarnya.

Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) memperkirakan, musim hujan bisa membuat tanggul jebol, waduk-waduk lumpur meluber, jalan tol terendam, dan lumpur diperkirakan mulai melibas rel kereta. Ini adalah bahaya yang bakal terjadi dalam hitungan jangka pendek.

Sudah ada tiga tim ahli yang dibentuk untuk memadamkan lumpur berikut menanggulangi dampaknya. Mereka bekerja secara paralel. Tiap tim terdiri dari perwakilan Lapindo, pemerintah, dan sejumlah ahli dari beberapa universitas terkemuka. Di antaranya, para pakar dari ITS, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Tim Satu, yang menangani penanggulangan lumpur, berkutat dengan skenario pemadaman. Tujuan jangka pendeknya adalah memadamkan lumpur dan mencari penyelesaian cepat untuk jutaan kubik lumpur yang telah terhampar di atas tanah.

KEPUTUSAN PEMERINTAH :

Rapat Kabinet pada 27 September 2006 akhirnya memutuskan untuk membuang lumpur panas Sidoardjo langsung ke Kali Porong. Keputusan itu dilakukan karena terjadinya peningkatan volume semburan lumpur dari 50,000 meter kubik per hari menjadi 126,000 meter kubik per hari, untuk memberikan tambahan waktu untuk mengupayakan penghentian semburan lumpur tersebut dan sekaligus mempersiapkan alternatif penanganan yang lain, seperti pembentukan lahan basah (rawa) baru di kawasan pantai Kabupaten Sidoardjo.

masalah sosial budaya yang ada didalam masyarakat sekitar lingkungan hidup saya

Posted in Uncategorized on Desember 3, 2009 by citra

Sering kali kita mendengar masalah-masalah budaya dalam  masyarakat yang ada dsekitar kita, misalnya banyak suatu sekelompok masyarakat yang banyak mengeluh akibat kekurangan kebutuhan hidup yang mengharuskan mereka melakukan hal-hal yang tidak semestinya mereka lakukan .

contohnya : melakukan pencurian .

CONTOH  : masalah kemiskinan akan menyangkut aspek sosiologi (hub. Antar manusia) aspek geografi (ruang, kesuburan tanah, sumber daya) aspek politik (pemerinta, kenegaraan) aaspek hukum (norma sosial, peratura, undang2) aspek budaya (adat istiadat, tradisi, tingkat teknologi) aspek ekonomi (lap kerja, sumber daya, modal) aspek psikologi (sikap mental, perilaku, kepribadian)

Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.

dari masalah- masalah  di atas kita semua dan khususnya saya pribadi dapat mengambil kesimpulan bahwa suatu kehidupan masyarakat juga dipengaruhi oleh adanya perbedaan kebudayaan antara satu daerah dengan daerah lainnya . oleh karena itu kita sebagai makhluk sosial wajib untuk menjaga budaya satu dengan lainnya .

ditulis oleh : citra widya ningtyas

artikel tentang lingkungan hidup ( tugas IBD )

Posted in Uncategorized on November 20, 2009 by citra
Pembangunan dan Masalah Lingkungan Hidup PDF Print E-mail
Pembangunan yang terus meningkat di segala bidang, khususnya pembangunan di bidang industri, semakin meningkatkan pula jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan beracun yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Untuk mencegah timbulnya pencemaran lingkungan dan bahaya terhadap kesehatan manusia serta makhluk hidup lainnya, limbah bahan berbahaya dan beracun harus dikelola secara khusus agar dapat dihilangkan atau dikurangi sifat bahayanya.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas telah mendorong Pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1994 tanggal 30 April 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3551) yang kemudian direvisi dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3595). Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994 ini kembali diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 31) dan terakhir diperbaharui kembali melalui Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang.
Dasar hukum dari dikeluarkannya Peraturan Pemerintah ini antara lain adalah Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) sebagaimana kemudian diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699, mulai berlaku sejak diundangkan tanggal 19 September 1997) serta Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274).
Lingkungan hidup didefenisikan oleh Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan yang dimaksud dengan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup.
Inti masalah lingkungan hidup adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup (organisme) dengan lingkungannya yang bersifat organik maupun anorganik yang juga merupakan inti permasalahan bidang kajian ekologi.
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana telah diubah oleh Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan bahwa pengelolaan lingkungan hidup diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat dan bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kata-kata “pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup” sebagaimana tercantum dalam tujuan tersebut di atas merupakan “kata kunci” (key words) dalam rangka melaksanakan pembangunan dewasa ini maupun di masa yang akan datang. (Koesnadi Hardjasoemantri, 1990: 127).
Istilah “pembangunan berkelanjutan yang berwawasan Lingkungan” merupakan suatu terjemahan bebas dari istilah “sustainable development” yang menggambarkan adanya saling ketergantungan antara pelestarian dan pembangunan. Istilah ini untuk pertama kalinya mulai diperkenalkan oleh The World Conservation Strategy (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan pada tahun 1980 yang menekankan bahwa kemanusiaan, yang merupakan bagian dalam alam, tidak mempunyai masa depan kecuali bila alam dan sumber daya alam dilestarikan. Dokumen ini menegaskan bahwa pelestarian tidak dapat dicapai tanpa dibarengi pembangunan untuk memerangi kemiskinan dan kesengsaraan ratusan juta umat manusia.

 

Penulis: Azamul Fadhly Noor
Sumber: http://azamul.wordpress.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.